Sabtu, 27 Oktober 2012

Tugas MID Kelompok

Kelompok :

Rencana Simulasi Belajar ( Vygotsky )

Alat dan Bahan  :
Kertas HVS yang tdd beberapa lembar dan dibuat berbentuk buku
- Alat tulis, berupa pensil, pulen berwarna, spidol
- Penggaris 60cm
- White Board

Cara Permainan  :
1. Setiap anak menentukan perannya masing-masing, yaitu sebagai guru atau murid.
2. Peran guru diperankan oleh 2 anak dan sisanya berperan sebagai murid.
3. Menentukan apa yang menjadi tugas pada masing-masing peran yang dipilih.
4. Mengatur tempat untuk bermain, misalnya posisi tempat duduk, posisi white board.
5. Memulai permainan sesuai dengan perannya masing-masing.

Tujuan  :
-       Anak  mampu mengambil peran yang jelas dimana peran yang dipilih oleh anak harus dapat diperagakan sesuai dengan tuntutan peran, misalnya sebagai murid, ia harus mendengarkan arahan dan perintah dari guru.
    Penerimaan terhadap perbedaan individu dimana ada penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Memberi peluang bagi anak dari berbagai latar belakang dan kondisi serta melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain. Pengembangan keterampilan sosial dimana mengajarkan kepada anak keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial, penting dimiliki oleh anak sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial.

  Pembahasan  :
          Vygotsky yakin bahwa anak akan jauh lebih berkembang jika berinteraksi dengan orang lain, meskipun pada akhirnya anak-anak akan mempelajari sendiri beberapa konsep melalui pengalaman sehari-hari. Tanpa bantuan orang lain,  anak-anak tidak akan pernah mengembangkan pemikiran operasional formal.
             Pada satu sisi, Piaget menjelaskan proses perkembangan kognitif sejalan dengan kemajuan anak-anak, dan dia menggambarkan bahwa  anak-anak mampu melakukan sesuatu sendiri. Pada sisi lain, Vygotsky mencari pengertian bagaimana anak-anak berkembang dengan melalui proses belajar, dimana fungsi-fungsi kognitif belum matang, namun masih dalam proses pematangan.
              Vygotsky membedakan antara Actual Development dan Potensial Development pada anak. Actual Development ditentukan apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa atau guru.Sedangkan Potensial Development membedakan apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu, memecahkan masalah di bawah petunjuk orang dewasa atau kerjasama dengan teman sebaya.
           Menurut  Vygotsky, Zona Perkembangan Proksimal merupakan celah antara Actual Development dan Potensial Development, dimana antara apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa dan apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang dewasa atau kerjasama dengan teman sebaya. Inti dari ZPD adalah menitikberatkan ZPD pada interaksi sosial yang akan dapat memudahkan perkembangan anak. Permainan imajiner adalah sumber utama dari perkembangan aktivitas simbolik. Anak memberi makna baru pada mainan dan objek lain dan memandang dirinya sendiri mengambil peran baru yang beragam, dimana anak harus: (a) mengambil peran yang jelas, dan (b) mengubah property benda dengan cara yang jelas. Seperti pada permainan peran diatas, anak yang berperan sebagai guru akan menggunakan spidol dan menuliskan sesuatu di white board kemudian berbicara seolah-olah ia seorang guru yang sedang mengajar didepan kelas. Proses akuisisi internal atas peran lambing atau symbol tidak terjadi secara otomatis. Sebaliknya, transisi dari bidang social eksternal ke bidang psikologis internal merupakan transisi dimana anak mulai melakukan bentuk perilaku yang sama yang oleh orang lain sebelumnya telah dilakukan. Dengan kata lain jalur dasar dalam penguasaan individu atas perilakunya adalah imitasi atau peniruan. Namun, ini bukan mekanika transfer sederhana dari satu orang ke orang lain. Sebaliknya, imitasi membutuhkan “pemahaman tertentu atas signifikansi dari tindakan orang lain”. Misalnya, jika individu tidak tahu apa pun mengenai belajar mengajar disekolah, ia tidak dapat berperan sebagai murid meski temannya sedang berperan sebagai guru yang sedang mengajar muridnya.

Selasa, 23 Oktober 2012

Tugas Individu : Review Jurnal Teori Kognitif


Judul penelitian  :
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP METODE PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DENGAN MOTIVASI BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS XI IPA SMAN 1 PANGKALAN KERINCI, RIAU

Instansi  :
Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro

Penulis  :
Amelia Pramitasari, Yeniar Indriana, Jati Ariati

Abstrak  :
Salah satu metode pembelajaran yang kemungkinan dapat meningkatkan motivasi belajar adalah metode pembelajaran kontekstual. Penerapan metode pembelajaran kontekstual ini pada pelajaran Biologi akan dinilai oleh siswa baik secara kognitif maupun afektif. Persepsi siswa terhadap metode pembelajaran kontekstual akan mempengaruhi perilaku belajar siswa. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMAN 1 Pangkalan Kerinci berjumlah 153 orang siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara persepsi terhadap metode pembelajaran kontekstual dengan motivasi belajar Biologi.

Keywords  :
persepsi, pembelajaran kontekstual, motivasi belajar Biologi, siswa kelas XI IPA.

Latar belakang penelitian  :
Di Indonesia, pembelajaran kontekstual merupakan salah satu strategi pembelajaran yang disarankan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Metode pembelajaran kontekstual yang diterapkan dalam pelajaran Biologi nantinya akan dipersepsikan oleh siswa kelas XI IPA. Siswa akan mempersepsi metode pembelajaran kontekstual secara afeksi dan kognisi. Persepsi siswa secara kognisi yaitu berkaitan dengan bagaimana pandangan siswa terhadap metode pembelajaran kontekstual yang diterapkan pada pelajaran Biologi. Persepsi siswa secara afektif adalah bagaimana penilaian siswa terhadap pembelajaran kontekstual pada pelajaran Biologi yang terkait dengan perasaan dan emosinya.

Metode penelitian  :
Penelitian ini dikenakan pada siswa kelas XI IPA SMAN 1 Pangkalan kerinci. Jumlah subyek penelitian 153 siswa yang terdiri dari 5 kelas dengan rincian: XI IPA 1 sebanyak 29 siswa , XI IPA 2 sebanyak 30 siswa, XI IPA 3 sebanyak 32 siswa, XI IPA 4 sebanyak 30 siswa dan XI IPA 5 sebanyak 32 siswa. Total sampel yang digunakan untuk penelitian ini tiga kelas dan dua kelas digunakan untuk ujicoba. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode self-report dengan menggunakan alat ukur skala sikap model Likert dengan empat pilihan jawaban.

Hasil penelitian  :
Hasil dari penelitian ini sesuai dengan hipotesis yang diajukan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara variable persepsi terhadap pembelajaran kontekstual dengan motivasi belajar Biologi. Persepsi terhadap pembelajaran kontekstual memberi sumbangan efektif sebesar 64,7% terhadap motivasi belajar Biologi siswa kelas XI IPA SMAN 1 Pangkalan Kerinci. 

Kesimpulan  :
Terdapat hubungan positif yang signifikan antara persepsi terhadap pembelajaran kontekstual dengan motivasi belajar Biologi, yang berarti bahwa hipotesis yang menyatakan adanya hubungan positif yang signifikan antara persepsi terhadap pembelajaran kontekstual dengan motivasi belajar Biologi diterima. Semakin positif persepsi terhadap pembelajaran kontekstual maka semakin tinggi motivasi belajar Biologi siswa kelas XI IPA dan sebaliknya, semakin negatif persepsi terhadap pembelajaran kontekstual maka semakin rendah motivasi belajar Biologi siswa kelas XI IPA.

*klik Jurnal disini


Rabu, 10 Oktober 2012

Psikologi Belajar hari ini :)

betapa menyenangkannya Belajar hari ini..
menciptakan suatu produk hanya dalam waktu 30 menit saja dari stimulus yang diberikan dan dikembangkan melalui Teori Belajar Skinner.

and.. this is it.. Poster Seminar Pendidikan ala Sarah 09-078 .



dan ternyata saya menjadi 6 terbaik di kelas. horeeeeeeeeeeeeee..
terimakasih Bu Dina untuk rewardnya :) enggak piano juga cace senang kok. hehehe


Selasa, 09 Oktober 2012

Analisis pengalaman pribadi berdasarkan teori belajar B.F Skinner


Pengalaman pribadi :
Kali ini saya berbagi sedikit cerita tentang keluarga baru yang saya dapatkan belum lama ini di kampus Psikologi, Psychestra Harmony Family. Pada awal terbentuknya kelompok paduan angklung ini, seorang pelatih yang didatangkan langsung dari Bandung menjadi motivasi bagi kami. Kalau teman-teman dulu mengatakan “iyalah ce.. masih muda abang itu, baik, ngajarnya lembut, ramah lagi..” Minggu demi minggu, bulan demi bulan berjalan, latihan terus – menerus dan pada akhirnya kami tampil pertama kalinya di depan umum yaitu pada saat Dies Natalis Psikologi tahun ini. Saya pribadi melihat ternyata tidak sedikit dari teman-teman yang akhirnya mengetahui serta menyadari bahwa bermain angklung itu tidaklah semudah yang dibayangkan selama ini. Baik dalam hal tempo, menjaga emosi saat memainkan angklung, serta membutuhkan fokus pada pendengaran terhadap permainan teman lainnya.
Setelah tampil membawakan beberapa lagu di acara puncak Dies Natalis Psikologi, mulai bermunculan teman-teman lain yang ingin bergabung bersama kami. Yaa.. yang awalnya mereka underestimate terhadap kelompok ini, mulai penasaran dan mendaftarkan diri. Alhasil, hasil usaha dan kerja keras latihan selama beberapa minggu, kami dapat menunjukkan diri dalam event yang lebih besar yaitu Gala Dinner Dies Natalis USU ke – 60. Dan berkat seorang anggota kami yang ternyata berelasi dengan MC Gala Dinner saat itu, Psychestra Harmony dapat on air di salah satu radio paling hits di kota Medan, 104.6 Star FM. Sungguh kesempatan dan pengalaman yang dapat membuktikan bahwa melalui proses pembelajaran, salah satu budaya bangsa dapat tetap kita lestarikan dan kembangkan meskipun mungkin tidak berasal dari daerah tempat tinggal kita.


Pembahasan  :
Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku. Tidak sedikit dari teman-teman yang baru pertama kali mengenal bahkan menyentuh angklung akhirnya menyadari bahwa bermain angklung tidaklah semudah yang dibayangkan. Mulai belajar tehnik bermain yang benar dari pelatih dan dituntut untuk menjaga interaksi sesama pemain agar nada-nada lagu yang dimainkan tidak putus. Respon yang diterima seseorang terbentuk karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan memengaruhi respon yang dihasilkan. Penampilan go public perdana kami mampu menghipnotis teman-teman lain yang awalnya underestimate dengan angklung serta yang hanya bisa berkata "aaaah.. kecil lah cuma digetarkan gitu doang kan mainnya.." pada akhirnya berubah pikiran dan bergabung. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya memengaruhi munculnya perilaku (Slavin, 2000). Keputusan mereka yang baru bergabung dengan angklung, tentu mau tidak mau menuntut mereka untuk mau belajar dan berbagi ilmu dengan teman-teman yang sudah terlebih dahulu belajar lagu-lagu yang dimainkan. Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut. Respon awal yang kurang baik akhirnya dapat membuat Psychestra Harmony semakin dipandang bukan hanya di dalam kampus, untuk melestarikan salah satu warisan budaya kesenian bangsa ini.

Senin, 08 Oktober 2012

Hasil diskusi kelompok - Analisis Film "Kinky Boots"

Kelompok :
Sarah Situmorang
Santri Tarigan
Elienz Tarigan

Sinopsis Film .
Kinky Boots merupakan sebuah film yang berkisah tentang Charlie Price (Joel Edgerton), seorang pria keturunan pengusaha sepatu dari Northampton yang berjuang untuk membangun pabrik sepatunya setelah ayahnya meninggal dunia. Charlie tak pernah bermimpi untuk meneruskan bisnis keluarganya yang turun temurun membuat sepatu. Tapi disanalah akhirnya takdir Charlie ditempatkan. Model dan kreasi baru pun tercipta dari tangan dan kepandaian Charlie. Northampton, salah satu kota kecil di Inggris itu, memang terkenal dengan masyarakatnya yang bekerja membuat sepatu terutama di daerah Earls Barton. Bisnis keluarga Charlie tak semulus yang ada dalam angannya. Pada suatu malam, Charlie bertemu dengan Lola (Chiwetel Ejiofor) yang adalah seorang waria. Lola meminta Charlie untuk membuat terobosan baru dengan menciptakan sepatu khusus pria. Lola menyakinkan Charlie bahwa rencananya ini akan memulai kembali masa kejayaan toko sepatu Price. Ide ini tampaknya sulit diterima oleh hati Charlie karena sejak dulu model sepatu Price tidak pernah berubah dengan model yang sama. Charlie pun harus terjebak dengan hatinya sendiri. Perubahan akhirnya harus terjadi demi keselamatan bisnis keluarga ini, seperti mulai dari orang lemah yang tidak tertarik dengan pabrik sepatu milik ayahnya tersebut, Charles berubah menjadi orang yang selalu berusaha maju dan cekatan. Ia yang awalnya tidak kreatif, menjadi orang yang bisa memeras pikiran dan tenaga serta menjadi atasan yang mampu dihormati oleh semua pegawainya. Di tengah perjalanan, masalah yang dihadapinya adalah ketika tunangan Charlie yang tamak malah mengambil kesempatan untuk menguasai semua usaha Charlie ini.

Pembahasan :
* Berdasarkan Teori Thorndike
Tiga hukum belajar untuk menjelaskan sebuah proses seperti dibahas dibawah ini:
- Law of effects : seuatu keadaan yang memuaskan setelah respons akan memperkuat koneksi antara stimulus dan perilaku yang tepat, dan keadaan yang menjengkelkan akan melemahkan koneksi tersebut. Ketika pertama kali Lola menolak dan tidak suka dengan sepatu rancangan Charles, ia tidak menyerah dan mencoba untuk membuatnya lagi sampai akhirnya Lola menerimanya.


- Law of exercise : mendeskripsikan perulangan atau repetisi danri pengalaman akan meningkatkan peluang respons yang benar.
Berulang kali mendapat penolakan dari para pegawainya, namun Charlie tetap bangkit kembali dan berusaha terus - menerus dengan berbagai cara untuk mendapatkan kembali kepercayaan dan kehormatannya.

Law of readiness : kondisi yang mengatur keadaan yang disebut sebagai "memuaskan" atau "menjengkelkan".
Awalnya Charles mendapat penolakan dari Lola untuk bekerjasama yang membuat ia jengkel dan kecewa. namun seiring berjalannya waktu, Charlie berusaha tenang dan kembali mencoba berbicara dengan Lola dan pada akhirnya bersedia bekerjasama.

* Berdasarkan pandangan behavioristik
Semua organisme menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui sejumlah respon yang disebabkan oleh stimulus (peristiwa) tertentu.
Charlie awalnya hanyalah seorang anak yang tidak pernah tau – menau dan kurang peduli dengan perusahaan sepatu milik ayahnya. Hingga pada akhirnya, ayahnya meninggal dunia (stimulus). Mau tidak mau, sebagai pewaris tunggal perusahaan keluarga ini, Charlie harus meneruskan perjuangan ayahnya sebagai usaha menyelamatkan aset keluarga. 

Selasa, 02 Oktober 2012

Resume Bab 2 "Teori - teori Belajar Awal"

Nama Kelompok :
Sarah Situmorang (09-078)

Psikolog ingin mengembangkan sains pasti seperti fisika dan kimia, akan tetapi disiplin ini belum memiliki metode riset yang pasti. Dari sini lahir behavorisme, yang diperjuangkan oleh pendirinya, B.Watson. Beliau mencatat bahwa 50 tahun terakhir psikologi gagal menjadi ilmu pasti. Kemudian Beliau mengusulkan subjek studi umum perilaku yang dapat menyatukan semua psikolog.
Behaviorisme menjadi aliran dominan dari 1920-an hingga 1950-an, namun ia tidak sepenuhnya bebas dari penantang. Pendapat yang menantangnya, yakni psikologi Gestalt, menekankan pada pentingnya persepsi pemelajar dalam situasi pemecahan masalah dan karenanya ia membahas persoalan kognisi.

PENGKONDISIAN KLASIK DAN KONEKSIONISME
Dua pendekatan awal untuk mempelajari perilaku adalah pengkondisian klasik dan koneksionisme. Keduanya memprioritaskan belajar dan berhasil mengolah berbagai perilaku dalam laboratorium.

Argumen Dasar Behaviorisme
Perubahan dalam masyarakat Amerika membuka jalan bagi studi perilaku (Lahey, 1992). Selain itu, filsafat Amerika yang baru muncul, pragmatism, menyebut konsekuensi (hasil) konkret sebagai batu uji untuk memvalidasi ide. Dengan kata lain, kebenaran adalah “hal-hal yang bisa dilakukan”.
Dalam konteks ini, John Watson mendukung studi perilaku. Dengan mempelajari perilaku, psikolog akan mampu untuk memprediksi respons yang ditimbulkan lewat stimulus, dan sebaliknya.Ketika tujuan ini tercapai, psikologi akan menjadi ilmu eksperimental objektif  (Watson, 1913). Selain itu, disiplin ini akan memberikan pengetahuan yang berguna bagi pendidik, ahli fisika, pemimpin bisnis, dan sebagainya.
Setelah mendalami studi perilaku, Watson menemukan riset reflleks-motorik dari psikolog Rusia V.M. Bekheterev. Karya Bekheterev adalah penting karena dia berhasil memanipulasi reaksi behavioral didalam laboratorium. Setelah membaca riset dan percaya bahwa control perilaku di dunia nyata akan segera dapat dilakukan, prediksi Watson ternyata keliru, tetapi pendapatnya sangat memengaruhi penggunaan metode riset dan pengukuran yang dilakukan para psikolog.

Asumsi Dasar
Istilah behaviorisme merujuk pada beberapa teori yang mengandung tiga asumsi dasar tentang belajar.Asumsi itu adalah :
1.      Yang menjadi fokus studi seharusnya adalah perilaku yang dapat diamati,bukan kejadian mental internal atau rekonstruksi verbal atas kejadian.
2.      Perilaku harus dipelajari melalui elemennya yang paling sederhana (stimuli spesifik dan respons spesifik).
3.      Proses belajar adalah perubahan behavioral.

Pavlov dan Pengkondisian Klasik atau Refleks
Eksperimen terkenal terhadap refleks yang dilakukan di laboratorium Ivan Pavlov. Kisah riset Pavlov memperlihatkan seorang ilmuwan kesepian secara tidak sengaja menemukan cara untuk mengontrol perilaku sederhana saat meneliti refleks keluarnya air liur anjing. Tetapi, Pavlov sebenarnya bukan ilmuwan penyendiri. Dia memimpin beberapa laboratorium, yang menghasilkan lebih dari 530 riset dari 1897 hingga 1936. Sebagai direktur laboratorium, Pavlov bertugas menentukan topik-topik riset untuk rekan kerja dan mahasiswanya dan memantau kerja mereka, namun dia sendiri jarang melakukan eksperimen (Todes,1997; Windholz,1997).

Pavlov dan Kaum Bolshevik
Masa-masa revolusi Bolshevik (1917-1921) adalah masa-masa sulit bagi Pavlov, keluarganya, dan laboratoriumnya. Pada Juni 1920, saat berusia 70 tahun, Pavlov menulis surat kepada pemerintah untuk minta izin beremigrasi. Karena ada larangan emigrasi ilmuwan yang dikenal di tingkat internasional, maka pemerintah member Pavlov status khusus. Dia menerima tunjangan hidup, jatah makanan yang ditentukannya sendiri, mendapat rekan kerja dan dukungan laboratorium (Todes, 1995).

Riset di Laboratorium Pavlov
Fokus dari riset yang diawasi oleh Pavlov adalah refleksi air liur anjing. Pavlov pada mulanya menyebut reaksi air liur ini sebagai reflex yang dikondisikan. Riset berikutnya oleh V.N. Boldyrev menemukan bahwa reflex air liur ini bisa dilatih untuk merespons (dikondisikan) objek-objek atau kejadian dari modalitas indrawi –suara, penglihatan, atau sentuhan.
Riset di laboratorium Pavlov ini penting karena dua sebab. Pertama, ia menunjukkan bahwa reaksi keluarnya air liur adalah refleks reaksi spontan yang terjadi secara otomatis ketika menerima stimulus tertentu. Kedua, mengubah relasi alamiah antara stimulus dan reaksi itu dianggap sebagai terobosan penting dalam studi perilaku.

Paradigma Pengkondisian Klasik
            Proses dimana kejadian atau stimuli mampu memicu respons dikenal sebagai refleks atau pengkondisian klasik.Terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap pertama adalah pra-eksperimental atau relasi alami antara stimulus dan reaksi. Pada tahap kedua, periset memasangkan stimulus asli dengan stimulus baru yang tidak ada kaitannya dengan reaksi. Kemudian tahap ketiga, setelah beberapa kali pengulangan, yang disebut “percobaan”, stimulus baru itu dapat menimbulkan reaksi. Sebagai hasilnya, stimulus dikondisikan (CS) akan menimbulkan respons yang dikondisikan (CR). Ini disebut pengkondisian klasik.

Behaviorisme John Watson
            Watson memberi kontribusi pada perkembangan psikologi melalui tiga cara. Pertama, dia mengorganisasikan temuan riset pengkondisian kedalam perspektif baru, yakni behaviorisme, dan membujuk psikolog lain untuk memahami arti penting dari pendapatnya. Kedua, kontribusi asli dari karyanya adalah memperluas  metode pengkondisian klasik ke respons emosional manusia. Ketiga, karyanya meningkatkan status belajar sebagai topik dalam psikologi.

Teori Emosi
            Watson mengidentifikasi tiga reaksi emosional bayi yang bersifat naluriah. Artinya reaksi itu terjadi secara alami. Reaksi-reaksi tersebut adalah cinta, marah, dan takut. Watson tidak sepakat dengan metode psikoanalisis Freud untuk menemukan akar dari kehidupan emosi individu. Beliau berpendapat bahwa proses ini melibatkan pengkondisian atas tiga reaksi dasar terhadap situasi yang berbeda-beda. Juga, informasi tentang pengkondisian emosional harus didasarkan pada observasi behavioral yang dilakukan dilaboratorium.

Reaksi Emosional yang Dikondisikan
            Melalui asosiasi yang dipasangkan, reaksi positif dan negatif mungkin dapat dikondisikan untuk berbagai macam objek dan kejadian. Selain itu, riset terkini mengindikasikan bahwa reaksi parental yang dipasangkan dengan stimulus yang baru akan memfasilitasi pengkondisian dari reaksi pendekatan atau penghindaran anak terhadap stimulus. Reaksi emosional dalam situasi tertentu mungkin dikondisikan dalam satu kali pemasangan stimuli.

Pengkondisian Klasik di Ruang Kelas
Langkah penting dalam pengembangan apresiasi literatur, seni, sains, dan mata pelajaran lainnya adalah mengasosiasikan pengalaman masa lalu siswa dengan reaksi positif. Akan tetapi, masalahnya adalah reaksi emosional negatif mungkin melekat pada beberapa situasi yang sama dan menyebabkan perilaku penghindaran seperti apati dan “tidak memerhatikan”.
            Salah satu strategi adalah menggunakan relasi yang sudah ada yang menimbulkan reaksi positif. Strategi semacam itu terutama penting dalam situasi dimana latar atau aktivitas khusus diperkirakan akan menimbulkan reaksi negatif.

Koneksionisme Edward Thorndike
            Meskipun koneksionisme Edward Thorndike biasanya dirujuk sebagai teori behavioris, ia berbeda dengan pengkondisian klasik dalam dua hal. Pertama, Thorndike tertarik dengan proses mental, dan ia pertama-tama mendesain eksperimennya untuk meneliti proses pemikiran binatang. Kedua, alih-alih meriset reaksi refleks atau tidak sukarela, Thorndike meneliti perilaku mandiri atau sukarela. Pandangan Thorndike tidak segera diterima luas. Namun, saat riset Thorndike semakin dikenal, ia menyebabkan munculnya banyak laboratorium untuk melakukan penelitian perilaku hewan.

Prosedur Eksperimental
            Thorndike bereksperimen dengan anak ayam, anjing, ikan, kucing, dan monyet. Prosedur eksperimen yang khas adalah membuat hewan harus keluar dari kurungan untuk mendapatkan makanan. Ketika dikurung hewan sering melakukan berbagai perilaku, seperti mencakar, menggigit, menggaruk, dan menggesek-gesekkan badan ke sisi sangkar.Tidak lama kemudian hewan akan menekan tuas dan karenanya bisa keluar untuk mendapatkan makanan. Berdasarkan data percobaan yang dicatat, dia menyimpulkan bahwa respons melarikan diri pelan-pelan menjadi terasosiasikan dengan situasi stimulus dalam belajar trial-end-error. Karena alasan ini, teori Thorndike dideskripsikan sebagai teori asosiasi.

Hukum Belajar
            Thorndike pada awalnya mengidentifikasi tiga hukum belajar untuk menjelaskan proses. Pertama, hokum efek (law of effects) menyatakan bahwa suatu keadaan yang memuaskan setelah respons akan memperkuat koneksi antara stimulus dan perilaku yang tepat, dan keadaan yang menjengkelkan akan melemahkan koneksi tersebut.  Kedua, hokum latihan (law of exercise) menyatakan bahwa perulangan atau repetisi dari pengalaman akan meningkatkan peluang respons yang benar. Ketiga, hokum kesiapan (law of readiness) mendeskripsikan kondisi yang mengatur keadaan yang disebut sebagai “memuaskan” atau “menjengkelkan”.

Aplikasi ke Belajar di Sekolah
            Thorndike mendasarkan interpretasinya atas proses belajar pada studi perilaku. Namun, karena teorinya juga mencakup referensi ke kejadian mental, teorinya berada di tengah-tengah antara perspektif kognitif dan behaviorisme “murni” dari periset lain. Menurutnya, koneksi antara ide-ide akan menghasilkan pengetahuan. Sistem koneksi ini mencakup contoh spesifik. Aturan Thorndike untuk pengajaran mengandung persyaratan untuk membangun koneksi antara stimuli dan respons. Secara spesifik : a)jangan membentuk hubungan yang akan putus; dan  b)bentuk ikatan sedemikian rupa sehingga kelak perlu ditindaklanjuti. Thorndike juga mendeskripsikan lima hukum minor yang merupakan upaya pertama untuk menjelaskan kompleksitas kemampuan belajar manusia.

PSIKOLOGI  GESTALT
            Fokus awal riset Gestalt adalah pengalaman persepsi. Menurut kisah, Max Wertheimer, pendiri psikologi Gestalt, mendapat ide untuk riset ini saat bepergian dari Vienna ke Jerman. Bersama dengan Kurt Koffka dan Wolfgang Kohler, Wertheimer mengembangkan hukum persepsi dan mengaplikasikan konsep ini ke belajar dan pemikiran.

Konsep Dasar
            Psikologi Gestalt berfungsi sebagai penentang behaviorisme di pertengahan abad ke-20. Psikolog Gestalt berpendapat bahwa yang diteliti seharusnya perilaku molar, bukan molecular. Psikolog Gestalt fokus pada persepsi dalam belajar. Organisme merespons keseluruhan ketimbang stimuli spesifik, organisasi stimuli memengaruhi persepsi, dan individu membangun persepsi ketimbang hanya menerima informasi secara pasif. Karakteristik tampilan stimulus yang memengaruhi persepsi adalah komprehensivitas dan stabilitas gambaran (hokum Pragnanz), dan karakteristik lain yang member kontribusi pada kelengkapan struktur atau pola.

Riset tentang Belajar dan Pemecahan Masalah
            Psikologi Gestalt member kontribusi beberapa konsep untuk memahami pemecahan masalah. Mungkin yang paling terkenal adalah kosep pemahaman (wawasan), yang melibatkan reorganisasi persepsi seseorang untuk “melihat” solusi. Analisis kontemporer mengindikasikan bahwa pemahaman kreatif pada masalah baru memerlukan kerja keras dan riset, periode inkubasi, momen wawasan, dan pengkajian lebih lanjut. Dalam kehidupan sehari-hari, wawasan terhadap masalah mungkin diperoleh lewat pengaturan kembali beberapa aspek dari persoalan, elaborasi, dan relaksasi pembatas.
            Kontribusi lain dari psikologi gestalt adalah pembedaan oleh Wertheimer atas belajar arbitrer (tanpa makna) dan belajar bermakna, dan faktor-faktor lain yang memengaruhi pemecahan masalah. Didalamnya mencakup pengidentifikasian masalah untuk menyusun solusi yang memiliki nilai fungsional, peran penemuan pemecahan masalah yang bermakna dengan panduan, dan menghindari pembatasan pemecahan masalah. Hal-hal yang membatasi itu antara lain adalah kekakuan fungsional, yakni ketidakmampuan untuk melihat elemen-elemen dari masalah dengan cara baru, dan belenggu masalah, yakni kekakuan dalam memecahkan masalah. Perkembangan lainnya adalah aplikasi konsep Gestalt ke formasi kelompok sosial dan motivasi serta konsep belajar laten.


PERBANDINGAN ANTARA BEHAVIORISME DAN TEORI GESTALT
            Behaviorisme awal dari teori Gestalt berbeda pandangan filosofisnya tentang belajar dalam hal identifikasi prinsip yang dapat diuji, pengandalan pada observasi untuk verifikasi, dan aplikasi prinsip ke situasi nyata. Kedua teori ini mengilustrasikan perkembangan pengetahuan melalui pengukuran yang akurat dan riset dalam kondisi yang terkontrol.

Karakteristik Utama
Behaviorisme
Teori Gestalt
Asumsi dasar
a) Perilaku yang dapat diamati, bukan even sadar atau mental, harus dipelajari.
b) Belajar adalah perubahan.
c) Hubungan antara stimuli dan respons harus dipelajari.
Individu bereaksi kepada sebuah kesatuan; karena itu, pemelajaran adalah organisasi dan reorganisasi bidang sendoris. Kesatuan tersebut memiliki property baru yang berbeda dari yang ada pada elemen tersebut.
Eksperimen umum
a) Trial and error : tikus menyusuri labirin; binatang keluar dari kandang.
b) Respons emosional atau refleks : pemasangan stimulus.
Mengorganisasikan kembali : subjek ditempatkan dalam situasi yang mensyaratkan restrukturisasi bagi solusi.
Formula belajar
a) Stimulus – respons – imbalan.
b) Respons emosional.
Konstelasi stimuli – organisasi – reaksi.