Minggu, 16 September 2012

Hasil Diskusi Analisis Kelompok


Nama anggota kelompok :

Sarah Situmorang

Berdasarkan teori Vygotsky, pengalaman-pengalaman yang kelompok kami alami sesuai dengan teori pembelajaran vygotsky dimana ia mengatakan bahwa proses belajar terjadi pada dua tahap: tahap pertama terjadi pada saat berkolaborasi dengan orang lain, dan tahap berikutnya dilakukan secara individual yang di dalamnya terjadi proses internalisasi. Nah seperti pengalaman yang kami alami dimana masing-masing bisa lebih memahami pelajaran-pelajaran sekolah setelah mengikuti bimbel yang kemudian dibantu oleh tentor-tentor untuk mengerjakan hal-hal yang kami rasa sulit dan tentunya mereka membantu kami memahami pelajaran-pelajaran sekolah dengan cara yang lebih mudah pastinya. Kemudian setelah kami memahami dan mengerti apa yang dijelaskan oleh tentor tersebut selanjutnya kami mulai bisa mengerjakan sendiri pelajaran-pelajaran yang tadinya kami anggap sulit dan kedepannya kami pun mampu untuk mengerjakan soal-soal yang tingkat kerumitannya lebih. Nah itulah proses belajar yang dimaksudkan oleh vygotsky pada tahap pertama ini. Kemudian tahap berikutnya yaitu proses internalisasi yang merupakan proses belajar yang berlangsung sepanjang hidup kita, mulai dari lahir sampai akhir hayat kita. Sepanjang hayatnya seorang individu terus belajar untuk mengolah segala perasaan, hasrat, nafsu dan emosi yang membentuk kepribadiannya. Apapun yang terjadi dalam hidup kita itu merupakan proses belajar.

Namun pada intinya pembahasan mengenai pengalaman kelompok kami adalah proses belajar dimana pengalaman tersebut menjadikan kami sedikit demi sedikit memperoleh kecakapan intelektual melalui interaksi dengan orang yang lebih ahli, ataupun orang dewasa. Dimana bantuan atau support yang diberikan, dimaksudkan agar kami nantinya dapat menghadapi tingkat kesulitan masalah yang lebih tinggi pada tingkat kognitif masing-masing.

pengalaman pribadi dan analisis kasus (pert.2)

Pengalaman ketika mengikuti Bimbingan Belajar pada masa SMA.
Umumnya, Bimbel merupakan tempat pembelajaran kedua terpenting setelah sekolah formal di pagi hari. Bagiku secara pribadi, Bimbel sangat membantu dalam proses belaajr sehari-hari. yaa.. tau sendiri kan terkadang di sekolah itu guru menerangkan dan berkesan lepas tangan. Mau siswanya mengerti atau tidak, dapat menerima atau tidak sepertinya kurang diperhatikan.
Nah kalau di Bimbel, apa yang kurang dimengerti dan dicerna dapat langsung ditanyakan secara tatap muka sama abang dan kakak tentor yang bisa kita pilih sendiri tentunya (mana yang cakep atau cantik. hehehe). Sistem pembelajaran di Bimbel juga berkesan lebih mempermudah, membuat rumus-rumus yang seabrek itu become so simple dari yang kita dapat di sekolah.
Hal yang paling menarik adalah dapat berdiskusi dengan sesama teman tentang topik-topik sulit, bersama-sama mengerjakan soal, pusing sama-sama dan bahagia pula sama-sama ketika berhasil menemukan jawaban dari soal-soal yang mungkin hanya segelintir orang yang mampu mengerjakannya.

Analisis berdasarkan Teori Vygotsky (ZPD - Zone of Proximal Development)
Dikatakan bahwa jika siswa masuk dalam ZPD, ketika tidak dapat menyelesaikan masalah sendiri, pada akhirnya dapat menyelesaikannya setelah mendapat bantuan dari orang yang lebih dewasa atau temannya yang lain. Bantuan atau support yang diberikan dimaksudkan agar siswa tersebut nantinya dapat menghadapi tingkat kesulitan masalah yang lebih tinggi pada tingkat kognitifnya.
Ya, dari sini dapat disimpulkan bahwa sebagai seorang siswa, aku merasa berada dalam zona ini. Mencari pemecahan soal-soal dari abang dan kakak tentor dan berbagi dengan teman-teman yang lain. Sehingga untuk di masa mendatang, mampu menghadapi tingkat soal dan rumus-rumus eksakta yang lebih tinggi.. 

Selasa, 11 September 2012

Teori Konstruktivisme Vygotsky


Vygostsky adalah seorang sarjana Hukum, tamat dari Universitas Moskow pada tahun 1917, kemudia beliau melanjutkan studi dalam bidang filsafat, psikologi, dan sastra pada fakultas Psikologi Universitas Moskow dan menyelesaikan studinya pada tahun 1925 dengan judul disertasi “The Psychology of Art”. Dengan latar belakang ilmu yang demikian banyak memberikan inspirasi pada pengembangan teknologi pembelajaran, bahasa, psikologi pendidikan, dan berbagai teori pembelajaran.


Berkaitan dengan pembelajaran, Vygotsky mengemukakan empat prinsip seperti yang dikutip oleh (Slavin, 2000: 256) yaitu:

(1) pembelajaran sosial (social leaning)
Pendekatan pembelajaran yang dipandang sesuai adalah pembelajaran kooperatif. Vygotsky menyatakan bahwa siswa belajar melalui interaksi bersama dengan orang dewasa atau teman yang lebih cakap.

(2) ZPD (zone of proximal development)
Bahwa siswa akan dapat mempelajari konsep-konsep dengan baik jika berada dalam ZPD. Siswa bekerja dalam ZPD jika siswa tidak dapat memecahkan masalah sendiri, tetapi dapat memecahkan masalah itu setelah mendapat bantuan orang dewasa atau temannya. Bantuan atau support dimaksud agar si anak mampu untuk mengerjakan tugas-tugas atau soal-soal yang lebih tinggi tingkat kerumitannya dari pada tingkat perkembangan kognitif si anak.

(3) Masa Magang Kognitif (cognitif apprenticeship)
Suatu proses yang menjadikan siswa sedikit demi sedikit memperoleh kecakapan intelektual melalui interaksi dengan orang yang lebih ahli, orang dewasa, atau teman yang lebih pandai.


(4) Pembelajaran Termediasi (mediated learning).
Vygostky menekankan pada scaffolding. Siswa diberi masalah yang kompleks, sulit, dan realistik, dan kemudian diberi bantuan secukupnya dalam memecahkan masalah siswa.


Yang terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses pembelajaran, siswa yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan.


Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa sehingga belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide dan pengembangan konsep baru.


Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivistik, yaitu:
(1) mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam konteks yang relevan.
(2) mengutamakan proses,
(3) menanamkan pembelajran dalam konteks pengalaman sosial,
(4) pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman

Aspek-Aspek Pembelajaran Konstruktivistik
a. Asimilasi
Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya.

B. Akomodasi
Akomodasi terjadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu.


Teori Vygotsky juga beranggapan bahwa pembelajaran terjadi apabila anak-anak bekerja atau belajar menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada dalam jangkauan kemampuannya (zone of proximal development), yaitu perkembangan kemampuan siswa sedikit di atas kemampuan yang sudah dimilikinya. Vygotsky menjelaskan bahwa proses belajar terjadi pada dua tahap: tahap pertama terjadi pada saat berkolaborasi dengan orang lain, dan tahap berikutnya dilakukan secara individual yang di dalamnya terjadi proses internalisasi. Selama proses interaksi terjadi, baik antara guru-siswa maupun antar siswa, kemampuan seperti saling menghargai, menguji kebenaran pernyataan pihak lain, bernegosiasi, dan saling mengadopsi pendapat dapat berkembang.



Anggota kelompok :
Sarah Situmorang 09-078
Elienz Tarigan 10-028
Santri Tarigan 10-012